MAPILA — Pagi di Desa Mapila selalu dimulai dengan suara ombak dan langkah para nelayan yang bersiap melaut. Di desa yang terletak di Kecamatan Kabaena Utara ini, kehidupan berjalan dalam ritme yang sederhana, namun penuh harapan.
Desa Mapila bukan sekadar titik di peta administratif Kabupaten Bombana. Ia adalah ruang hidup masyarakat pesisir yang menggantungkan masa depan pada laut, tanah, dan kebersamaan.
Sebagian besar warga di desa ini hidup dari hasil laut. Perahu-perahu kecil menjadi saksi aktivitas ekonomi yang terus berputar; dari menangkap ikan hingga mengolahnya menjadi sumber penghidupan. Laut bukan hanya sumber rezeki, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Mapila.
Di daratan, aktivitas pertanian dan usaha kecil turut menopang kehidupan warga. Meski dalam skala terbatas, sektor ini menjadi penyangga ketika hasil laut tidak menentu.
Namun lebih dari sekadar potensi alam, kekuatan utama Desa Mapila terletak pada manusianya. Nilai gotong royong masih terjaga, menjadi fondasi sosial yang memperkuat setiap langkah pembangunan desa.
Di tengah dinamika tersebut, Penjabat Kepala Desa, Andi Patawari, S.Sos, memikul tanggung jawab untuk memastikan desa ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
“Kami ingin Desa Mapila tidak hanya dikenal sebagai desa pesisir, tetapi juga sebagai desa yang mampu mengelola potensi yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Andi Patawari saat ditemui di Kabaena.
Ia menambahkan, pemerintah desa saat ini terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan potensi lokal.
“Kami mendorong masyarakat untuk terus produktif, baik di sektor perikanan maupun usaha lainnya. Pemerintah desa juga berkomitmen untuk membuka ruang transparansi dan meningkatkan pelayanan,” tambahnya.
Desa Mapla memiliki peluang besar. Letaknya yang strategis di kawasan Kabaena Utara membuka potensi sebagai penghubung aktivitas ekonomi lokal. Sementara kekayaan sumber daya laut menjadi modal utama yang jika dikelola dengan baik, dapat meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat.
Namun seperti banyak desa pesisir lainnya, tantangan tetap ada. Ketergantungan pada alam, fluktuasi hasil tangkapan, hingga akses pasar menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terjawab.
Di sinilah peran pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi penting untuk memastikan bahwa potensi yang dimiliki tidak hanya menjadi cerita, tetapi benar-benar menjadi kekuatan ekonomi.
Desa Mapila hari ini adalah gambaran tentang harapan yang tumbuh perlahan. Tidak selalu terlihat besar, tetapi terus bergerak.
Dari pesisir Kabaena Utara, desa ini menyimpan satu pesan sederhana: bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari kota besar, tetapi bisa tumbuh dari desa-desa kecil yang tidak pernah berhenti berusaha. (adm)