Malam di Kasipute ternyata tidak sesunyi bayangan banyak orang tentang kota kecil di jazirah Bombana. Saat matahari tenggelam, denyut kehidupan justru mulai terasa bergerak. Lampu-lampu warung makan menyala di pinggir jalan, aroma ikan bakar bercampur suara kendaraan yang lalu-lalang, sementara kelompok anak muda duduk bercengkerama di sudut-sudut kafe sederhana.
Selama dua malam, 22 hingga 23 Mei 2026, saya mencoba memperhatikan ritme ekonomi masyarakat di seputaran Kasipute. Di luar hiruk-pikuk kota besar, geliat UMKM di wilayah ini tumbuh perlahan namun terasa nyata. Warung kuliner ramai, toko kebutuhan harian hidup, dan masyarakat tampak tetap memiliki daya beli yang cukup baik.
Harga kebutuhan pokok relatif terkendali. Harga makanan masih bersahabat. Bahkan beberapa pedagang mengaku pasokan barang sejauh ini tetap lancar meski wilayah Bombana memiliki tantangan distribusi tersendiri sebagai daerah yang sebagian wilayahnya berbasis kepulauan.
Di tempat seperti ini, ekonomi rakyat terasa bekerja dengan cara yang sederhana: tidak mewah, tetapi terus bergerak.
Pagi 24 Mei 2026, sekitar pukul sembilan, perjalanan dilanjutkan bersama Pelaksana Tugas Kepala Desa Mapila, Andi Patawari, S.Sos menuju Tanjung Pising—pelabuhan kecil yang menjadi pintu masuk menuju Desa Mapila di Kecamatan Kabaena Utara.
Perjalanan laut menuju wilayah pesisir itu menghadirkan suasana yang berbeda. Laut membentang luas, angin asin sesekali menerpa wajah, sementara perahu-perahu nelayan terlihat melintas jauh di kejauhan.
Sekitar pukul satu siang, kami tiba di Desa Mapila.
Kampung itu berdiri tenang di tepian laut.
Rumah-rumah warga berjajar sederhana. Sebagian anak kecil tampak bermain di dekat bibir pantai, sementara para nelayan duduk memperbaiki jaring di bawah kolong rumah panggung. Tidak ada hiruk-pikuk kota. Tidak ada gedung tinggi. Tetapi ada kehidupan yang berjalan dengan caranya sendiri.
Di desa nelayan seperti Mapila, laut bukan sekadar pemandangan. Laut adalah dapur kehidupan.
Desa Mapila sendiri terbagi dalam tiga dusun dengan karakter yang berbeda namun saling melengkapi.
Dusun I menjadi pusat pemerintahan sekaligus jantung administrasi desa. Di kawasan inilah berbagai aktivitas pelayanan publik dijalankan. Kantor desa berdiri menjadi pusat koordinasi masyarakat, disertai pos keamanan dan ruang pertemuan warga. Suasana gotong royong masih terasa kuat, terutama dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan patroli malam yang dijalankan Linmas desa demi menjaga ketenteraman warga.
Sementara itu, Dusun Pising berkembang sebagai wajah pariwisata Desa Mapila. Hamparan pasir putih dan laut yang jernih menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik alam yang memikat. Pantai Tanjung Pising perlahan mulai dikenal sebagai destinasi wisata pesisir di wilayah Kabaena Utara. Beberapa gazebo dan fasilitas wisata sederhana telah dibangun, sementara warga mulai memanfaatkan peluang ekonomi dengan membuka warung kuliner, kios kecil, hingga jasa penyewaan fasilitas wisata.
Adapun Dusun Malandahi menjadi representasi kuat identitas masyarakat pesisir dan budaya Suku Bajau. Deretan rumah panggung berdiri di atas laut, menghadirkan pemandangan khas kampung bahari yang sulit ditemukan di perkotaan. Di dusun inilah aktivitas nelayan tradisional berlangsung setiap hari. Perahu-perahu kecil bersandar di dermaga, sementara sebagian warga menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan karang dan budidaya rumput laut.
Hal pertama yang cukup mengejutkan justru soal kebutuhan pokok. Saya menemukan banyak warung kecil di desa yang menjual barang dengan harga tidak jauh berbeda dibanding Kasipute. Bahkan beberapa warga mengatakan ada barang tertentu yang lebih murah dibanding Kota Kendari.
Di tengah keterbatasan geografis, kestabilan harga itu menjadi hal penting bagi masyarakat.
Mapila juga perlahan mulai tersentuh perkembangan digital. Di beberapa titik desa tersedia hotspot internet yang menggunakan sistem voucher. Anak-anak muda membeli paket harian dengan harga lima ribu rupiah untuk akses internet unlimited satu hari.
Barangkali bagi masyarakat kota itu terdengar biasa. Tetapi di desa pesisir yang jauh dari pusat kota, internet murah adalah tanda bahwa dunia perlahan mulai mendekat.
Meski demikian, tidak semua persoalan dapat diatasi dengan mudah.
Di balik stabilnya bahan pokok dan mulai masuknya akses digital, masyarakat nelayan Mapila sedang menghadapi masalah yang jauh lebih mendasar: solar.
Bahan bakar itu menjadi urat nadi kehidupan nelayan. Tanpa solar, perahu tidak bergerak. Tanpa perahu, dapur tidak mengepul.
Beberapa warga bercerita bahwa harga solar bisa mencapai Rp300 ribu per jeriken berisi sekitar 20 liter. Itu pun sulit didapat.
Bagi nelayan kecil, kondisi ini terasa sangat berat.
Hasil laut tidak selalu pasti, sementara biaya operasional terus meningkat. Sebagian nelayan akhirnya harus mengurangi frekuensi melaut karena pengeluaran tidak sebanding dengan hasil tangkapan.
Di desa pesisir, kelangkaan solar bukan sekadar persoalan distribusi energi. Ia bisa menjadi soal bertahan hidup.
Namun di tengah segala keterbatasan itu, Mapila masih menyimpan sesuatu yang mulai jarang ditemukan di banyak tempat: gotong royong.
Saya melihat Kepala Desa bersama warga turun langsung memperbaiki jalan desa secara swadaya. Jalan itu memang belum sepenuhnya baik. Di beberapa titik masih tampak rusak dan berlubang. Keterbatasan anggaran membuat perbaikan harus dilakukan sedikit demi sedikit.
Tetapi justru di situlah makna perjuangan sebuah desa terasa.
Pembangunan di Mapila mungkin tidak berlangsung cepat. Tidak megah. Tidak penuh seremoni. Namun masyarakatnya tetap bergerak, bekerja, dan berusaha memperbaiki keadaan dengan kemampuan yang mereka miliki.
Namun ada satu peristiwa kecil yang justru paling membekas dalam perjalanan ini.
Pagi 26 Mei 2026, sebelum kembali menuju Kendari, saya menggunakan motor trail untuk membeli tiket perjalanan pulang. Jalanan desa yang menanjak dan berbatu membuat kendaraan cukup sulit dikendalikan. Saat berada di salah satu tanjakan, motor yang saya kendarai mendadak kehilangan tenaga dan berhenti. Dalam posisi belum stabil, saya akhirnya terjatuh.
Di tempat yang relatif sunyi itu, saya sempat berpikir akan kesulitan bangkit sendiri.
Tetapi dugaan itu keliru.
Tidak lama setelah terjatuh, seorang Babinsa TNI bersama beberapa warga yang berada tidak jauh dari lokasi langsung berlarian mendatangi saya. Mereka sigap membantu mengangkat motor dan memastikan kondisi saya baik-baik saja.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah bantuan sederhana. Namun di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, respons spontan tersebut meninggalkan kesan mendalam tentang arti kepedulian.
Di wilayah kepulauan seperti Mapila, rasa kebersamaan ternyata masih hidup dengan sangat alami.
Kehadiran aparat TNI di tengah masyarakat pun terasa bukan sekadar simbol negara, tetapi bagian dari kehidupan warga sehari-hari. Mereka hadir, mengenal masyarakatnya, dan bergerak cepat ketika ada yang membutuhkan bantuan.
Sore itu, perjalanan menuju Sikeli dilanjutkan sebagai persiapan kembali ke Kendari keesokan harinya. Laut perlahan menjauh, rumah-rumah panggung mulai tampak kecil dari kejauhan.
Tetapi ada satu kesan yang tertinggal cukup lama dalam ingatan: desa kecil di pesisir Kabaena Utara itu mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu membutuhkan kemewahan untuk tetap bertahan.
Kadang yang dibutuhkan hanyalah kebersamaan, kerja keras, dan kepedulian yang tetap hidup di tengah keterbatasan.
Dan mungkin, itulah kekayaan terbesar yang masih dimiliki desa-desa kecil di pesisir negeri ini.(*)
Sumber: PilarSultra.com